MERDEKA!

KBBI

MERDEKA! Katanya…
Setelah kemeriahan perayaan kemerdekaan Indonesia, melihat tawa dan antusias rakyat menyambut 17 Agustus, terasa bahwa meneriakkan kata “MERDEKA!” memang begitu menyenangkan. Ada semangat, ada kebersamaan, rasanya meriah, rasanya nasionalis sekali, ya,  ada euforia yang seakan membuat kita lupa pada beban hidup sehari-hari. 

Di balik sorak-sorai itu, muncul pertanyaan yang tak bisa begitu saja diabaikan, apakah teriakan merdeka itu benar-benar mencerminkan kenyataan, atau hanya gema seremonial yang menutupi luka sosial bangsa ini?

Apakah merdeka cukup dengan seremoni pengibaran bendera? Bila ya, maka betapa rapuhnya arti merdeka, sebab selembar bendera One Piece saja mampu mengguncang kursi para elit. Lucu, bukan? Heheeew

Hari ini, penjajahan tidak lagi datang dengan kapal perang. Ia datang dengan seragam jas rapi, dasi mahal, dan tanda tangan di atas dokumen investasi. Bedanya, pelurunya sekarang bernama “pembangunan” dan “regulasi”. Lebih licin, lebih manis, tapi efeknya tetap mematikan, rakyat tetap lapar, petani tetap merugi, laut tetap direklamasi.

Konon kita bangsa besar. Sayangnya, besarnya hanya di baliho. Di atas kertas, kedaulatan itu milik rakyat, tapi di lapangan, kedaulatan itu milik korporasi asing, bukan? Cihh.  Sementara petani, tulang punggung bangsa ini hanya bisa menonton tanahnya ditanami pabrik. Nelayan hanya bisa melongo melihat lautnya ditutup reklamasi. Buruh hanya bisa pasrah, kerja keras tapi gaji tetap pas-pasan, duh kamasee. 

Tunggu, terkait MBG yang tidak bergizi-gizi amat (bagaimana mau bergizi,  akses pangannya diganti tambang dan sawit), hampir separuh anggarannya berasal dari anggaran pendidikan, padahal akses kuantitas dan kualitas pendidikan belum merata apalagi merdeka.   Lalu kata pemerintah, “Ini demi kesejahteraan bersama.” Ah, kalau begitu, mungkin kata “bersama” maksudnya, bersama elit, bukan bersama rakyat. DWARRR 

Merdeka hari ini ibarat wifi gratis: sinyalnya ada, tapi cuma kuat di dekat birokasi. Rakyat kecil dapat sisa-sisanya, itupun lemot. Heheeew

Dan ketika rakyat protes, seperti Bara-Barayya, Bantaeng, Takalar, Pati,  Kendeng, Wadas, Rempang, dan BANYAK LAGI,  mereka yang melawan ketidakadilan langsung dianggap tukang  rusuh. Ironis sekali, rakyat yang mempertahankan haknya dianggap melawan hukum, sementara yang menggusur tanah justru dilindungi hukum.

Jadi, apa arti merdeka? Kalau masih harus takut diusir dari tanah spendiri, takut kehilangan laut, takut harga sembako naik, maka “Merdeka!” mungkin tinggal slogan. Slogan yang dipajang di baliho, ditempel di spanduk, atau diteriakkan di podium dengan suara lantang. 

MERDEKA!

katanya...

Tapi coba tanya lagi, siapa yang sesungguhnya merdeka? Rakyat? Atau segelintir elit yang bahkan takut pada bendera anime? Apa jangan-jangan relate yaaaa?  Heheheeeeew

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potret Gadis Cilik di Tengah Gempuran Perang Dunia II

MAMA'